Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Merayakan Tahun Baru
7
Suka
25,458
Dibaca

Berada di tempat-tempat baru membuat Arunika selalu ingin membuka buku hariannya dan menulis puisi. Dia senantiasa menuliskan pengalamannya begitu menjejakkan kaki di kota yang bukan kotanya. Dulu, dia mencatat pengalamannya dalam berlembar-lembar paragraf, tapi puisi, meski dengan huruf yang lebih sedikit, ternyata mampu mengabadikan segalanya dengan lebih bersahaja. Semula, dia meniru gaya tulisan W.S. Rendra pada buku Sajak-Sajak Sepatu Tua. Namun, lama-lama Arunika menemukan iramanya sendiri.

(Jika senggang, sesampainya di rumah, dia biasa duduk di depan piano, lalu mencoba menenun nada dengan mengandalkan puisinya. Arunika meyakini, dengan melatarinya dengan musik, dia telah mengembalikan puisi pada fitrahnya sebagai tradisi lisan yang dekat dengan irama. Selain piano, dia juga sering merangkai musik dengan gitar. Jika pada piano dia memakai kunci-kunci sederhana, dengan gitar dia selalu tergoda memainkan kunci-kunci yang jarang dipakai—seperti dim, aug, dan mayor-minor yang melibatkan angka.)

Setelah membuka tirai jendela lantai tujuh pada sebuah hotel di Semarang, Arunika memandang Simpang Lima. Pengunjung yang hendak merayakan tahun baru sudah memenuhi alun-alun. Malam meninggi dan awan tebal menaungi langit. Gerimis mengembun hening di kaca.

Tadinya dia ingin merayakannya di puncak, seperti masa remaja dulu, dengan dilatari unggun dan cokelat hangat, bersama Raka dan mungkin pendaki lain. Dia ingin memandang Matahari pertama di dekat cakrawala, seraya beralaskan sejuk rerumputan. Namun, karena cuaca tidak memungkinkan, rencana itu terpaksa dibatalkan. Tetapi, tak mengapa, begini pun cukup.

Raka, suaminya, berbaring santai di ranjang seraya membaca novel. Dia memang tidak bisa dipisahkan dengan buku, jadi Arunika memilih menghabiskan waktu dengan membuka buku harian, tapi bukan untuk menulisinya, apalagi mengisinya dengan sajak-sajak baru. Bukan. Dia hanya ingin mengunjungi kenangan yang sudah tergurat pada lembarannya. 

“Sedang apa, Sayang?” tiba-tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang. Arunika menyandarkan kepala di bahu suaminya.

“Mencintaimu,” Arunika tersenyum. Keduanya pun berciuman, diterangi riuh kembang api yang bermekaran di jendela. Indah sekali.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Skrip Film
ASSALAAMU'ALAIKUM RANI
NAA
Flash
Merayakan Tahun Baru
Rafael Yanuar
Flash
Bronze
Suami Seorang Novelis
Silvarani
Novel
Bronze
Salah Arah
Rahmawati
Novel
SAKURA
Ejas Intan
Cerpen
Belajar masak yukz, Sayang
Irvinia Margaretha Nauli
Cerpen
Bronze
Di Desanya Cinta Juga Begitu
Lian lubis
Novel
Gold
Raelia
Mizan Publishing
Novel
Untuk Tuan Yang Tidak Dalam Pelukkan
krasivaya
Flash
Hari Ini Hari Apa, Sayang?
Vika Rahelia
Cerpen
Bronze
Jangan kirimi aku Cinta, kirimi aku Kepastian
syaifulloh
Cerpen
Bronze
Supir Ambulan
Fitriyani
Flash
Bronze
Under the Same Sky (Di Bawah Langit yang Sama)
Okhie vellino erianto
Flash
A Little Thing You Do
Donquixote
Skrip Film
Tabir cinta
Neni Sri agustin
Rekomendasi
Flash
Merayakan Tahun Baru
Rafael Yanuar
Novel
Sampai Jumpa Besok
Rafael Yanuar
Flash
Clair de Lune
Rafael Yanuar
Flash
Janji Santiago
Rafael Yanuar
Cerpen
Toko Buku Kecil di Kaki Bukit
Rafael Yanuar
Novel
Cakrawala yang Sunyi
Rafael Yanuar
Flash
Kekasih Hujan
Rafael Yanuar
Novel
Jalan Setapak Menuju Rumah
Rafael Yanuar
Flash
Lukisan Rendra
Rafael Yanuar
Flash
Setelah Gelap Datang
Rafael Yanuar
Novel
Gerimis Daun-Daun
Rafael Yanuar
Flash
Dunia dalam Tas
Rafael Yanuar
Flash
Sepayung Berdua
Rafael Yanuar
Cerpen
Rehat Sejenak
Rafael Yanuar
Flash
Upaya Sederhana Memaknai Kenangan
Rafael Yanuar