Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Di Sisa Waktu Ibu
6
Suka
32,889
Dibaca

Beberapa bulan lalu, di usia yang kedua puluh lima aku lulus dan resmi menjadi pengangguran. Agar tidak melulu direcoki orang-orang soal statusku, aku berusaha mencari pekerjaan.

Namun tentu saja mencari pekerjaan bukanlah hal mudah, terutama di tengah pandemi yang entah kapan akan berakhir ini. Selain itu, keterampilanku juga tak begitu mumpuni.

Setelah menghabiskan lebih dari enam bulan menjadi manusia tidak berguna, akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan kantoran dengan gaji pas-pasan. 

Sebenarnya, sempat ada beberapa tawaran menjadi penjaga toko baju, toko fotocopy dan guru paruh waktu di tempat kursus. Namun aku terlalu bangga dengan status sarjanaku sehingga merasa malu jika harus bekerja seperti itu. Lagi pula, pekerjaan yang demikian, kurasa, tidak akan membuat ibuku bangga.

***

Hari ini, akhirnya aku mendapatkan gaji pertama. Aku menabung sebagian dari pendapatan, membayar tagihan, dan menyisihkan sedikit untuk sedekah. Sisa sedikit, tapi tak apa. Cukuplah untuk membahagiakan ibu. 

Sudah lama aku ingin memberikan sebagian dari gaji pertamaku pada ibu. Tapi ibu tak akan mau, karena ia tahu penghasilanku belum seberapa. Jadi, aku memutuskan menggunakan uang itu untuk mengajak ibu makan di restoran enak.

Kini ibu ada di depanku. Terlihat canggung. Jelas tidak terbiasa. Tangannya gemetar memegang sendok dan garpu, entah karena sakitnya kambuh atau sekadar gugup. 

Aku menatap ibu. Meruminasi hari-hari di masa lalu. Bayangan ibu yang selalu menjagaku sedari aku masih bayi, menghidupiku sepenuh hati, membuatku demikian sedih. Mataku memanas. 

Kusadari tatapan para pengunjung restoran mengarah ke ibu, yang masih berkutat dengan garpu.

Perlahan, aku meraih sendok di tangan ibu lalu melakukan hal yang selama ini sangat jarang kulakukan. Menyuapi ibu yang kini terlihat seperti bayi.

Aku tersenyum puas.

Kuharap, masih ada banyak waktu tersisa untuk membahagiakan ibu.

***

“Hei, tunggu!” Seorang pramusaji mencegat temannya. “Kau lihat pengunjung di meja nomor dua?” 

“Meja dekat jendela?”

“Iya. Bagaimana ini? Aku takut melihat dia bicara sendiri. Apa dia gila? Haruskah kita mengusirnya?”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Di Sisa Waktu Ibu
Jauza M
Flash
Aku Mencintaiku
SITI NUR AISYAH
Novel
Popisdead
D. Hardi
Skrip Film
STORGE
Kazu Hana
Flash
Heaven
Mahmud
Novel
Kata Mamak
elesia maria tamba
Novel
Bronze
THE SLICES OF HEART (Iris-Irisan Hati).
Bhina Wiriadinata
Cerpen
Bronze
ORANG-ORANG YANG KELUAR DARI BOTOL
Rian Widagdo
Cerpen
Dua Puluh Enam Makam Tanpa Nama
Muhammad Ilfan Zulfani
Cerpen
Bronze
ANAK GERBONG
Gie_aja
Novel
Bronze
Sumpah Setia
Annisa Sabhrina
Novel
Sederhana
Kepo
Novel
Gold
KKPK GG Forever
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Caramello di Kaki Bukit Penantian #BagianDua
Laily Zainuri
Novel
TAKE THE CASE AND RUN
Tio Derma
Rekomendasi
Flash
Di Sisa Waktu Ibu
Jauza M
Novel
Bronze
The Breakup Notes
Jauza M
Flash
Rumpang
Jauza M
Novel
Pasar Orang-Orang Mati
Jauza M