Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Ratih Dan Kereta Pagi
2
Suka
12,827
Dibaca

Kereta ini mengangkutku seperti barang rombeng: mematung dan kaku. Satu jam lamanya bertahan dari desak orang-orang berpunggung tinggi dan usikan tangan-tangan cabul menjadi kebiasaanku saban hari. Sepagi apapun aku datang di antara orang-orang, dudukan akan selalu diisi ibu-ibu yang beberapa di antaranya super tega dan ganas. Bila aku tak mengalah dengan yang lebih tua, aku akan diviralkan, lanjut dikritik masyarakat dan menjadikanku sasaran serapah sebagai contoh dari generasi sampah. Kejam betul!

Aku tak akan mengulangi apa yang terjadi pada Ratih, teman sekantorku yang nyentrik itu. Ia hanya ketiban sial bertemu dengan orang setres kambuhan dan moodnya yang kacau membuatnya mau berulah untuk meladeni keributan absurd itu. Perkara tempat duduk siapa cepat bakal dapat tak berlaku lagi, dan dia harus mengalah karena sadar menjadi tontonan banyak orang.

Bila kupikir lagi, ingin sekali kugigit jempol-jempol nakal yang mengatainya kala itu satu persatu. Layar gepeng membuat orang bisa dengan biasa bersikap norak. Orang bodoh yang berkerumun dan tutup mata tanpa ampun menghajar orang lain dengan verbal yang bengis, tanpa memakai pandangan yang adil. Lingkungan yang menyeramkan.

Ratih memang bermental baja. Komentar pedas sekalipun hanya dianggapnya angin lalu. Seakan dunianya orang-orang tak bisa menarik minatnya untuk peduli. Dia mahir berbodo amat, pun pada penampilannya yang cenderung terlalu biasa untuk ukuran manajer dengan tiga bawahan. Dia juga masih setia berkereta dan berjibaku dengan kelelahan, meski dia tak kekurangan uang sepertiku.

Parfum murahan yang kupakai ini kemudian membangunkan lamunanku tentang Ratih. Kuendus wanginya yang melebur bersama ketiak-ketiak pagi seperti kelelahan lembur hingga mandi pagi bukan sesuatu yang darurat harus dilakukan orang-orang.

Setiap pagi di gerbong ini aku akan melihat pikiranku melesat memikirkan bagaimana menghadapi omelan-omelan para rekan kantor, sejam setelah aku tiba di sana. Aku tak mungkin resign, sedangkan Ratih kini memilih jalan yang tak akan pernah kupilih itu. Dia akan resign lusa katanya, untuk persiapan menjadi caleg di kampung halamannya. Kami sekantor mendengarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia memang tak mudah ditebak.

Aku melanjutkan lagi lamunanku yang lain sebelum kereta ini sampai di nerakaku

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Ratih Dan Kereta Pagi
utamimi
Flash
Mbak Kunti yang Cengeng
9inestories
Flash
Gengsi! (Kebaikan Dari Ocehan Bunda)
Siddfen
Flash
Bronze
06:10
Sunarti
Cerpen
Lady Ciprut dan Gendhuk Tini
bomo wicaksono
Cerpen
Bronze
Penebusan dosa sang naga
Laura Lauren
Cerpen
Hero
hyu
Flash
Bronze
Reviewer Handal
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Cerita Teras Rumah
Fajar Muharram
Flash
LIDAHMU MEMBUNUHMU
Ratna Arifian
Cerpen
Bronze
Ngaku Saja Pak Dul!
glowedy
Cerpen
Gadai Emas Bonus Cerita
Malichatus Sa'diyah
Cerpen
Butuh Healing gara gara Healing
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Begitulah Kelakuan Kawan Kita Si Rohim
Habel Rajavani
Cerpen
Asmara Yang Bikin Jantung Copot
cahyo laras
Rekomendasi
Flash
Ratih Dan Kereta Pagi
utamimi
Skrip Film
The Clueless Flower Buds
utamimi