Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Little Boy #01
5
Suka
21,714
Dibaca

Dahulu kala disebuah gubuk menetaplah seorang ibu bersama putra semata wayangnya. Ayah ntah kemana. Pergi atau sudah mati mereka tak tau pasti. Ibu sudah menjadi kepala keluarga sejak lama.

Sebagai wakil kepala keluarga, sang putra haruslah kuat. Fisik maupun hati. Ibu sayang dengan putra semata wayangnya. Pagi, siang, sore, petang, hingga malam, Ibu selalu menjaga sang putra setiap detiknya.

“Anakku, jadilah kamu laki laki yang kuat!”

Sang putra mengangguk pertanda paham. Ibu adalah harta karun satu satunya. Tak ada yang lebih penting dari pada ucapannya.

***

Sang putra jatuh tertimpa dahan pohon.

“Bangun!kata ibu.”

Dengan susah payah tubuh ringkihnya bangun mengangkat dahan pohon. Meninggalkan bekas luka lebam dibahu kirinya.

***

Hari yang sial ketika sang putra terperosok ke dalam jurang.

“Tak usah menangis, cepat bangun dan merangkaklah keatas!”

Tak ada alasan untuk berkata tidak.

***

Sang putra hampir menangis ketakutan karena anjing liar menghadang jalannya.

“Kau menangis? Cepat lawan, tunjukan kemampuanmu!”

Air mata adalah hal yang memalukan.

Bangun bangun dan bangun.

Manusia kuat hidup tanpa air mata. Begitu prinsipnya.

“Iya ibu.”

Apa ada kalimat lain yang bisa diucapkan sang putra?

Ibu adalah segalanya. Setiap jam, menit, bahkan detik. Bersama.

20 tahun berlalu. Putra kecil ibu sudah menjadi lelaki sebenarnya. Tubuh kecil ringkih berubah menjadi badan besar berisi. Bahunya bidang. Otot ditangan dan kakinya begitu jelas dan kekar.

Tubuhnya yang dulu pemdek terus tumbuh hingga melebihi tinggi ibunya.

Sedangkan ibu. Semakin tua tubuhnya semakin lemah. Sakit sakitan. Cekungan dipipinya semakin dalam. Kulit pucat dan semakin menyusut membuat urat uratya semakin terlihat. Rambut panjang hitamnya berubah menjadi putih dan terus berkurang jumlahnya.

Hingga akhirnya Ibu tiada. Meninggalkan putra tercintanya. Setidaknya dia pergi dengan hati yang lega karena putra kecilnya tumbuh kuat seperti keinginannya.

Lalu…

Bagaimana sang putra?

” ibu.. Kau pergi? Ada yang aneh. Ada sesuatu yang hilang. Makanan ku hambar. Tak berselera apapun walaupun hanya minum

Hampa

Aku tidak bisa tertawa. Hatiku tak merasakan apa apa. Bahkan aku tak menangis ketika kau pergi. Ibu, aku ingin duduk disampinng kuburmu. Tapi… Bagaimana caranya? Katamu aku harus tetap berdiri. Lihat aku sudah menjadi laki laki kuat. Apa ku bangga padaku?”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Little Boy #01
Tanti Ardiana
Flash
Bronze
Don't Lose Yourself When You're Falling in Love
Silvarani
Komik
Bronze
MELAN©HOLIC
sleepy neko
Flash
IDENTITAS
Gusty Ayu Puspagathy
Flash
Nada
Rena Miya
Flash
Bronze
MAKAN MALAM YANG CANGGUNG
N Shalihin Damiri
Flash
Bronze
Sekejap Senja, Selamanya Rasa.
Putri Rafi
Novel
Bronze
Sembuh Utuh
Afifahsty
Flash
Pertemuan Keluarga
Singkat Cerita
Flash
Bronze
Je T"aime à La Folie
B12
Flash
Bronze
Unfol My Idol
Silvarani
Novel
SUNSET
Murti Wijayanti
Skrip Film
Perempuan 3 Nama (skrip)
Ayeshalole
Flash
Ponsel
Rena Miya
Flash
Remahan
Ariq Ramadhan Nugraha
Rekomendasi
Flash
Little Boy #01
Tanti Ardiana
Flash
Terlanjur #02
Tanti Ardiana