Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Saklar
3
Suka
26,109
Dibaca

Saat matahari mulai menyembunyikan wajahnya. Semua orang berbondong-bondong untuk menyalakan saklar di rumah mereka. Sama halnya dengan apa yang dilakukan gadis berambut lurus. Dia berlari dari meja belajarnya dan melompat menekan saklar yang berada di dekat jendela. Namun tak lama dia hanya bisa diam, berdiri di dekat jendela sambil memegang sapu di tangan. Pandangannya lurus menatap jendela-jendela yang bersebrangan dengan jendelanya. Dia berdecak heran. Dimiringkan kepalanya ke kanan. Dia melihat kedua orang tua yang sudah beruban mengangkat seorang pemuda untuk menekan saklar. Saat saklar ditekan, rumah mereka menjadi terang dan mereka pun bersorak senang.

Sekarang dimiringkan kepalanya ke kiri. Dia melihat beberapa orang dengan gelang yang sama mengangkat seorang gadis dengan gelang yang sama juga untuk menekan saklar. Saat saklar telah ditekan, rumah gadis itu menjadi terang. Lalu mereka berpelukan dan bernyanyi bersama.

Kini gadis berambut lurus itu meluruskan pandangannya pada jendela yang tepat sekali bersebrangan dengan jendelanya. Bibirnya sedikit tertarik melihat jendela itu sama gelapnya dengan jendelanya. Samar-samar dia melihat seorang wanita dengan wajah cemas sedang menenangkan bayi yang terus menangis. Tanpa disadari tanggannya ia lambaikan pelan diiringi suara yang mencekat saat tiba-tiba saja jendela itu bersinar. Tangisan bayi meredam diikuti senyuman sang Ibu yang terbit saat melihat kepala keluarga berdiri didekat saklar masih lengkap dengan seragam kerjanya.

Lagi-lagi senyum gadis berambut lurus pudar. Sapu ditangannya terjatuh menimbulkan suara yang menggema di rumah kecilnya. Dia berteriak kencang. Tak terima jika jendelanya saja yang masih gelap. Namun teriakannya tak bersuara. Dia tidak bisa bersuara.

Tangannya dengan keras menutup jendela. Membalikkan badannya agar tak perlu melihat jendela-jendela yang mulai menyala. Badannya lemas layaknya badan tanpa sukma. Dia bersandar dibawah jendela sambil memeluk kedua kaki yang bergetar begitu hebat. Air mata mulai turun layaknya gerimis di kota yang gersang. Satu tangannya menutup mulutnya. Takut membangunkan foto-foto di dinding rumahnya.

Sejak itu, setiap matahari akan menyembunyikan wajah, dia akan menutup jendela dan duduk bersandar dibawah jendela. Merengkuh kedua kaki yang mulai layu. Sambil menatap pintu kayu yang tak kunjung mendapat tamu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Tiba-tiba
Dea Rivani
Novel
Continuity
Mutia Rahmadyanti
Novel
Extraordinary you: Secret Mission
Hanina Dzikriya
Novel
Mengulang kisah
Suyanti
Novel
BORSALINO
Lutfi maulana
Flash
Saklar
Alifia Sastia
Flash
Surat Kabar
Yuanita Faridatun Ni'mah
Cerpen
Bronze
Andai Aku Tak Jatuh Cinta
Rizka Amalia
Novel
Bronze
Tinggi dari Awan
Yesno S
Novel
Rumah Tanpa Cermin
Atika Winata
Flash
Bronze
Kedinginan
Andriyana
Cerpen
Bronze
Demi Ibu yang Sakit
Sulton Rizman
Novel
Love Letter
Benedikta Sonia
Novel
ALEGRA
I | N
Skrip Film
The Power Of My Fam(ily)
rahmatunisa fadilla
Rekomendasi
Flash
Saklar
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Darah Dibalas Dara
Alifia Sastia
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia