Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sisi bocah ingusan menepi di teras rumahku, itu dalam waktu kurang dari dua jam sejak kuperhatikan dari dalam. Aku tidak percaya ini, gagal menikah malah mendapatkan anak. “Ah paling juga anak sedang neduh,” gumamku sambil berjalan ke di depan. Terjadi akuisisi antara aku dan si bocah.
“Hai, kamu terlantar?”
“Haha, sudah kuduga, angkat aku jadi anakmu! Aku janji akan kukabulkan semua permintaanmu.”
“Haha, kamu jin setara usia anak SD, utusan dari raja hujan?”
Kami bersatu dengan keyakinan dari do’a bahwa ini adalah utusan-Nya. Tetapi, bukan hanya berkat Tuhan lagi, tapi ini lebih berat lagi berkatnya, hingga tak ada waktu aku bisa tersenyum normal. Aku pergi ke meja informasi RS. Husada, untuk memastikan. Keluarga mengeluh tentang berbagiku yang seharusnya tidak kuterima sejak awal.
“Anak itu sakit, sampai kapan kamu akan menanggung ini semua?” tanya ibuku.
Aku tipe konsisten, langkah tidak bisa terhenti ditengah jalan. Kerabat yang tidak tahan dengan kenyataan bahwa kami telah berduka. Mencapai tingkat di mana kami dapat melalui masa kritis. Yang suportif, menurut ibu, adalah aku yang mengerti bagaimana rasanya menjadi sisi gadis kuat.
Dan, Tuhan menjamah atas do’a. Anakku sehat.
“Aku ingin main hujan-hujanan lagi.”
“Iya, nanti kita lakukan, setelah musim hujan datang.”
“Haha.”
Waktu telah datang. Sekarang aku bisa senyum dengan normal, kuangkat-angkat anakku ke udara sambil menikmati setiap tusukan dari hujan deras, dinginnya yang menusuk menjadi hangat karena bahagia.