Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Terrorist
2
Suka
15,751
Dibaca

Malam ini aku mengunjungi area kompleks kuburan. Suara burung hantu menghilangkan kesunyian malam di sana. Kulihat sosok wanita berpakaian hitam, mondar - mandir di sekitar kuburan tersebut. Aku masih memperhatikannya sambil memperhatikan buku catatanku.

Wanita bercadar itu seperti orang kebingungan tak tentu arah. Aku tergerak untuk membantunya. Kudatangi dia yang masih mondar – mandir di kuburan.

“Ada yang bisa kubantu, kak?” tanyaku dengan nada halus.

“Ini dimana? Kenapa aku bisa berada di kuburan ini?” balasnya sambil tetap memperhatikan sekitar.

“Hm... apa kakak tidak ingat apa yang barusan terjadi hari ini?”

Dia mencoba mengingat – ingat kejadian yang baru saja ia alami. Matanya terpejam seperti sedang berpikir keras. Aku ingin membantunya mengingat masa lalunya.

“Bagaimana, kak? Sudah bisa mengingat?” tanyaku kembali,

“Tidak. Aku tidak bisa mengingatnya,” jawabnya.

Terpaksa aku harus mengingatkan dia apa yang baru saja ia lakukan hari ini. Aku menepuk pundaknya.

“Kakak baru saja mati hari ini. Apa kakak tidak ingat?”

Dia kembali mencoba mengingat kejadian hari ini hingga akhirnya di teringat bahwa baru saja ia mati tertembak polisi.

“Akhirnya kakak mengingatnya. Di situlah tempat kakak dikuburkan,” ucapku sambil menunjuk salah satu nisan yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

Wanita itu berlari mendekati nisan yang kutunjuk. Dia memperhatikan nama di nisan tersebut. Dan benar! Itu adalah nama miliknya.

“Tidak mungkin! Ini bukan kuburan untuk keyakinanku.”

Aku tertawa mendengarnya, “Apa kakak tidak ingat mengapa kakak di tembak oleh polisi?”

“Aku melakukan apa yang aku yakini! Tidak ada yang salah dengan itu!” jawabnya tegas dengan nada yang menantang.

“Sayangnya, mayatmu tidak diterima oleh mereka yang juga memegang keyakinanmu. Beruntunglah masih ada pihak yang memegang keyakinan lain, yang mau menerimamu. Meskipun sebenarnya kau seharusnya juga tidak diterima di sini,” balasku sambil membentangkan tangan. Menunjukkan bahwa ini adalah kuburan pemegang keyakinan lain.

Wanita itu menangis menyesali apa yang telah ia lakukan hari ini. Aku tidak mau menghakimi wanita itu, karena itu bukanlah urusanku. Aku mendekati wanita itu. Kudekatkan mulutku sambil berbisik ke telinganya, “Selamat datang di dunia hampa.”

Teriakan putus asa wanita itu mengiringi bisikan suaraku di telinganya. Aku pergi meninggalkan wanita yang masih bersedih itu. Kulihat di catatanku, nama wanita itu sudah terhapus dari lembar.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Terrorist
Dark Specialist
Novel
Gold
Fantasteen Ghost Dormitory in Paris
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
the dream of peace
Viona fiantika
Flash
Dua Boneka Tanpa Nama
Priy Ant
Cerpen
Bronze
Gelapnya Terowongan Tersembunyi
tia htp
Novel
Bulan Madu yang Tertunda
Innuri Sulamono
Novel
Bronze
Tujuh Hari Dalam Kafan
Bramanditya
Novel
Bronze
The Photographer
Wira karmayudha
Flash
Parade Kunang-kunang
Ragiel JP
Cerpen
Rutinitas
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
Bronze
SETAN RUMAH B2A
Ranang Aji SP
Skrip Film
PESUGIHAN NASI GORENG
Onet Adithia Rizlan
Flash
Eksistensi
Dark Specialist
Novel
Gold
Surat dari Kematian
Falcon Publishing
Cerpen
Bronze
Kuncup Bunga Ungu
Christian Shonda Benyamin
Rekomendasi
Flash
Terrorist
Dark Specialist
Flash
Eksistensi
Dark Specialist
Novel
Dagaz
Dark Specialist
Novel
Bronze
Herrscher: deus experimentum
Dark Specialist
Novel
Herrscher
Dark Specialist
Flash
Kaya
Dark Specialist
Flash
Ramalan
Dark Specialist
Flash
Giliran
Dark Specialist
Flash
Hadiah
Dark Specialist
Flash
Doa
Dark Specialist
Flash
Panen
Dark Specialist
Flash
Gagal
Dark Specialist
Novel
Herrscher: universum conspiratio
Dark Specialist
Flash
Liburan
Dark Specialist
Flash
Waktu
Dark Specialist