Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Terrorist
2
Suka
17,258
Dibaca

Malam ini aku mengunjungi area kompleks kuburan. Suara burung hantu menghilangkan kesunyian malam di sana. Kulihat sosok wanita berpakaian hitam, mondar - mandir di sekitar kuburan tersebut. Aku masih memperhatikannya sambil memperhatikan buku catatanku.

Wanita bercadar itu seperti orang kebingungan tak tentu arah. Aku tergerak untuk membantunya. Kudatangi dia yang masih mondar – mandir di kuburan.

“Ada yang bisa kubantu, kak?” tanyaku dengan nada halus.

“Ini dimana? Kenapa aku bisa berada di kuburan ini?” balasnya sambil tetap memperhatikan sekitar.

“Hm... apa kakak tidak ingat apa yang barusan terjadi hari ini?”

Dia mencoba mengingat – ingat kejadian yang baru saja ia alami. Matanya terpejam seperti sedang berpikir keras. Aku ingin membantunya mengingat masa lalunya.

“Bagaimana, kak? Sudah bisa mengingat?” tanyaku kembali,

“Tidak. Aku tidak bisa mengingatnya,” jawabnya.

Terpaksa aku harus mengingatkan dia apa yang baru saja ia lakukan hari ini. Aku menepuk pundaknya.

“Kakak baru saja mati hari ini. Apa kakak tidak ingat?”

Dia kembali mencoba mengingat kejadian hari ini hingga akhirnya di teringat bahwa baru saja ia mati tertembak polisi.

“Akhirnya kakak mengingatnya. Di situlah tempat kakak dikuburkan,” ucapku sambil menunjuk salah satu nisan yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

Wanita itu berlari mendekati nisan yang kutunjuk. Dia memperhatikan nama di nisan tersebut. Dan benar! Itu adalah nama miliknya.

“Tidak mungkin! Ini bukan kuburan untuk keyakinanku.”

Aku tertawa mendengarnya, “Apa kakak tidak ingat mengapa kakak di tembak oleh polisi?”

“Aku melakukan apa yang aku yakini! Tidak ada yang salah dengan itu!” jawabnya tegas dengan nada yang menantang.

“Sayangnya, mayatmu tidak diterima oleh mereka yang juga memegang keyakinanmu. Beruntunglah masih ada pihak yang memegang keyakinan lain, yang mau menerimamu. Meskipun sebenarnya kau seharusnya juga tidak diterima di sini,” balasku sambil membentangkan tangan. Menunjukkan bahwa ini adalah kuburan pemegang keyakinan lain.

Wanita itu menangis menyesali apa yang telah ia lakukan hari ini. Aku tidak mau menghakimi wanita itu, karena itu bukanlah urusanku. Aku mendekati wanita itu. Kudekatkan mulutku sambil berbisik ke telinganya, “Selamat datang di dunia hampa.”

Teriakan putus asa wanita itu mengiringi bisikan suaraku di telinganya. Aku pergi meninggalkan wanita yang masih bersedih itu. Kulihat di catatanku, nama wanita itu sudah terhapus dari lembar.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Lembur
Lovaerina
Flash
LOSER
Rama Sudeta A
Flash
Terrorist
Dark Specialist
Novel
Gold
Hell City
Noura Publishing
Novel
VAMANA
Hazsef
Flash
Which Is Not Visible
Sarda Ragilia A.S
Cerpen
Bronze
Kultus Sebuah Lagu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Murid Ghaib
ASEP SAEPULOH
Novel
Bronze
LEUMPEUH YUNI (Ketika Tubuh Manusia Disalahgunakan)
Papp Tedd
Novel
Bronze
ATM Antrian Tengah Malam
Herman Siem
Flash
Bronze
Pertemuan Arwah
Dewie Sudarsh
Novel
Komplotan Tidak Takut Hantu
Mohamad Novianto
Novel
Duit Tumbal
Indah lestari
Cerpen
Bronze
MANGSA PERTAMA
Darryllah Itoe
Novel
Bulan Madu yang Tertunda
Innuri Sulamono
Rekomendasi
Flash
Terrorist
Dark Specialist
Flash
Waktu
Dark Specialist
Novel
Dagaz
Dark Specialist
Flash
Giliran
Dark Specialist
Flash
Gagal
Dark Specialist
Novel
Herrscher
Dark Specialist
Novel
Bronze
Herrscher: deus experimentum
Dark Specialist
Flash
Hadiah
Dark Specialist
Flash
Eksistensi
Dark Specialist
Flash
Kaya
Dark Specialist
Flash
Jatuh
Dark Specialist
Flash
Panen
Dark Specialist
Flash
Hari Ibu
Dark Specialist
Flash
Ramalan
Dark Specialist
Flash
Permainan
Dark Specialist