Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
PELUKAN SETENGAH ABAD
8
Suka
11,135
Dibaca

Ribuan kali aku membayangkan jeruji besi dengan lantai dingin, suatu saat akan meringkusku. Dan setiap itu pula semakin menguat sebenarnya tekadku-- untuk tidak gentar dan melenyapkan ketakutan tak penting itu. Namun rupanya, ini jauh dari perkiraan, aku benar-benar dibuat remuk. 

Rambut di kepalaku dipotong habis, hampir gundul, dan seragam biru dengan nomor tahanan di belakangnya tiba-tiba melekat di tubuhku.

Pukul lima pagi, rumah tempatku menginap di Yogya digedor. Sekitar 50 orang dari Politieke Inlichtingen Dienst membawaku ke tempat orang-orang sakit jiwa.

Mereka mau menghancurkan diriku dari dalam, mental dan pikiranku dibuat seolah-olah hanyalah plastik yang mudah dirobek-robek. Setelah semalam di Mergangsan mereka kemudian mengirimku dengan kereta untuk kembali ke Barat. 

Sebuah papan bertuliskan nama rumah tahanan itu menyambutku di gerbang, seolah bersiap mencengkeram. Dan ke dalam sel no. 5, Blok F kemudian seolah aku dimasukan ke dalam peti mati.

Tembok besi hitam yang padat, tanpa jendela dan hanya selubang kecil tempat para penjaga mengintip. Begitu tertutup, sampai lembabnya terasa sekali tertelan tenggorokan, dan dinginnya seperti hendak merontokkan gigiku.

Seekor cicak yang dulu tak pernah kupeduli, kini malah rajin kuajak bicara dan kupelihara.

"Makanlah, jangan takut, itu milikmu!" Cicak itu lahap. 

Sekali waktu sering berkunjung seekor burung ke dalam mimpiku, dia bernyanyi-- seakan aku sedang berada di tengah hutan damai.

Hingga tibalah saat kedatangan istriku yang kunanti.

"Karno, apa kabar?"

"Baik. Terima kasih sudah mengunjungi!" 

Mungkin dia terkejut melihat dalam sebulan lamanya, aku tiba-tiba begitu kurus dan tak terurus. Diri ini yang biasa disuguhi dan tak lepas dari tangan kasihnya, kini begitu telantar dengan rantai di tangan dan kakinya. Rantai yang tak kasat mata membelenggu, tak bisa sekadar memeluk dalam waktu tak seberapa.

"Istriku, ini adalah lima menit waktu yang diberikan kepada kita, tetapi ini adalah 50 tahun kau memelukku untuk percaya, pelukan panjang itu adalah doa!"***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
PELUKAN SETENGAH ABAD
Faisal Syahreza
Cerpen
Pondok Mbah Caraka
cendana
Novel
Bronze
Sembilan Ekor Untuk Sebuah Dendam
Madhiyah Izati Hasanah
Cerpen
Bronze
Aroma Mesiu Di Langit Senja Pantai Malaka
Anjrah Lelono Broto
Novel
Gold
Muhammad Ali
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Mencari Buah Simalakama
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
MOTHERVAN
glowedy
Cerpen
Bronze
Antara Utara dan Selatan
Silvarani
Cerpen
Bumiputera
Adinda Amalia
Novel
Bronze
Keris Bima Sakti: The Return Of Jena Teke
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Anak-Anak Pewaris Jukung Tambangan
Agus Puguh Santosa
Cerpen
Bronze
Burung-Burung Itu Tak Berkata Lagi
Andriyana
Novel
Bronze
PARADESHA
Rida Fitria
Cerpen
Aaron dan Istana Laut
Ren Shinichi
Cerpen
Bronze
Sejarah Kota Nagasaki
Sergian Fransisco
Rekomendasi
Flash
PELUKAN SETENGAH ABAD
Faisal Syahreza
Flash
JAS REMBULAN
Faisal Syahreza
Skrip Film
Yang Lupa Diajarkan Cinta
Faisal Syahreza
Flash
ES AIRMATA BAHAGIA
Faisal Syahreza
Flash
SERAT-SERAT SUARA
Faisal Syahreza