Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
PELUKAN SETENGAH ABAD
8
Suka
12,147
Dibaca

Ribuan kali aku membayangkan jeruji besi dengan lantai dingin, suatu saat akan meringkusku. Dan setiap itu pula semakin menguat sebenarnya tekadku-- untuk tidak gentar dan melenyapkan ketakutan tak penting itu. Namun rupanya, ini jauh dari perkiraan, aku benar-benar dibuat remuk. 

Rambut di kepalaku dipotong habis, hampir gundul, dan seragam biru dengan nomor tahanan di belakangnya tiba-tiba melekat di tubuhku.

Pukul lima pagi, rumah tempatku menginap di Yogya digedor. Sekitar 50 orang dari Politieke Inlichtingen Dienst membawaku ke tempat orang-orang sakit jiwa.

Mereka mau menghancurkan diriku dari dalam, mental dan pikiranku dibuat seolah-olah hanyalah plastik yang mudah dirobek-robek. Setelah semalam di Mergangsan mereka kemudian mengirimku dengan kereta untuk kembali ke Barat. 

Sebuah papan bertuliskan nama rumah tahanan itu menyambutku di gerbang, seolah bersiap mencengkeram. Dan ke dalam sel no. 5, Blok F kemudian seolah aku dimasukan ke dalam peti mati.

Tembok besi hitam yang padat, tanpa jendela dan hanya selubang kecil tempat para penjaga mengintip. Begitu tertutup, sampai lembabnya terasa sekali tertelan tenggorokan, dan dinginnya seperti hendak merontokkan gigiku.

Seekor cicak yang dulu tak pernah kupeduli, kini malah rajin kuajak bicara dan kupelihara.

"Makanlah, jangan takut, itu milikmu!" Cicak itu lahap. 

Sekali waktu sering berkunjung seekor burung ke dalam mimpiku, dia bernyanyi-- seakan aku sedang berada di tengah hutan damai.

Hingga tibalah saat kedatangan istriku yang kunanti.

"Karno, apa kabar?"

"Baik. Terima kasih sudah mengunjungi!" 

Mungkin dia terkejut melihat dalam sebulan lamanya, aku tiba-tiba begitu kurus dan tak terurus. Diri ini yang biasa disuguhi dan tak lepas dari tangan kasihnya, kini begitu telantar dengan rantai di tangan dan kakinya. Rantai yang tak kasat mata membelenggu, tak bisa sekadar memeluk dalam waktu tak seberapa.

"Istriku, ini adalah lima menit waktu yang diberikan kepada kita, tetapi ini adalah 50 tahun kau memelukku untuk percaya, pelukan panjang itu adalah doa!"***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
PELUKAN SETENGAH ABAD
Faisal Syahreza
Cerpen
Ivana dan Sang Raja Naga Yang Malas
Traevic
Novel
Bronze
NAIK KASTA
Lestari Zulkarnain
Flash
Bronze
Raja Angga Karna
Hesti Ary Windiastuti
Novel
Mengikat Makna Selamanya
Mizan Publika
Flash
#2. Langit Berbintang dan Rasa Takdir
Tourtaleslights
Novel
Prahara DiCameti Galing
mang giok
Cerpen
Bronze
Penerbang yang Tak Pernah Jetlag
Silvarani
Novel
Bronze
Senja Di Pantai
sukadmadji
Novel
Bronze
DIERJA, 1998 (Gula-Gula-Gila)
Ana Latifa
Novel
Swastamita
justyooursj
Novel
Resonansi Fernando
Kanter Simanungkalit
Novel
Bronze
Langit Merah Batavia
Leyla Imtichanah
Novel
Wounds, Promiss and Fates
Ira A. Margireta
Novel
Jejak sang Petarung: Warisan Macan Hitam
yooajh
Rekomendasi
Flash
PELUKAN SETENGAH ABAD
Faisal Syahreza
Flash
JAS REMBULAN
Faisal Syahreza
Skrip Film
Yang Lupa Diajarkan Cinta
Faisal Syahreza
Flash
SERAT-SERAT SUARA
Faisal Syahreza
Flash
ES AIRMATA BAHAGIA
Faisal Syahreza