Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Capung Merah Aira
13
Suka
32,068
Dibaca

“Ayah! Ayah! Aira dapat ini, Yah,” teriak Aira sambil berlari-lari kecil menuju kamarku. Anak perempuan yang baru berusia empat tahun itu menghambur ke arahku, lalu duduk di pinggir dipan.

“Dapat apa, Aira?” tanyaku tanpa bangun dari tempatku berbaring.

“Ini, Yah, Aira menangkap capung. Warnanya merah. Cantik ya, Yah!” Aira menjawab sambil naik ke dipan dan menunjukkan capung di tangannya, tepat di depan mukaku.

“Cantik sekali capungnya, Aira. Nangkapnya tadi pakai apa?” tanyaku sambil memeluk pinggangnya yang ramping.

“Tadi Aira mengendap-endap, Yah. Terus, Aira pegang ekornya. Tahu nggak, Yah, tadi capung ini menggigit Aira.”

“Ha? Aira digigit? Mana yang digigit? Sakit nggak?”

“Ini, Yah! Jempol Aira yang digigit. Nggak sakit kok, Yah. Pas dia nggigit, Aira langsung pegang sayapnya, terus Aira bawa ke sini, deh,” kata Aira sambil mengamati capung di tangannya.

“Oh, gitu. Memangnya itu capung mau diapain, Ra?”

“Enaknya diapain ya, Yah? Aira ingin membunuhnya karena tadi sudah menggigit Aira.”

“Lho, kok dibunuh Ra? Kan kasihan. Bagaimana kalau dilepasin saja.”

“Kok dilepasin sih, Yah. Aira kan susah menangkapnya. Ya udah, kalau gak boleh dibunuh, mau Aira masukin ke toples aja. Boleh ya, Yah?”

“Ya udah, boleh. Tapi nanti dilepasin lagi, ya? Kasihan!”

“Iya, Yah. Ya udah Aira ambil toples dulu ya. Nih, tolong ayah pegang capungnya dulu!”

“Oke.”

Aira menyerahkan capung merah itu kepadaku. Ia kemudian berjingkat keluar dari kamar. Tiba-tiba aku merasakan gatal di punggung lengan kiri. Tanpa sengaja aku melepaskan capung di tangan kananku agar bisa menggaruk tempat yang gatal itu.

“Ini toplesnya, Yah! Masukin capungnya ke sini, Yah!” kata Aira memasuki kamarku. Ia membawa toples bulat dengan kedua tangannya.

“Aira, capungnya terbang. Maafkan ayah, Aira! Ayah janji, nanti Ayah akan tangkap lagi capung yang banyak.”

“Kok dilepasin sih, Yah! Ayah jahat! Ayah jahat! Hu … hu … hu …,” Aira berlari keluar kamar sambil menutupi wajah dengan kedua tangan mungilnya.

“Aira! Aira! Tunggu, Aira!”

Aku bangkit dari tidur untuk mengejar Aira. Tapi, ada apa dengan kakiku?

“Aira!” Aku berteriak memanggil anak perempuanku itu.

“Ayah … Ayah …. Tenang, Yah,” kata seorang perempuan yang berlari kecil masuk ke kamarku.

“Aira! Mana Aira? Aira tadi marah sama Ayah. Mana dia?”

“Ayah …,” kata perempuan itu dengan lembut. Ia mengusap dahiku dengan tangannya yang putih dan halus.

“Aku mau mengejar Aira. Tapi, kenapa kakiku dipasangi rantai? Lepaskan aku! Lepaskan! Aku mau mengejar anakku.”

Perempuan itu memelukku.

“Eh, kenapa kamu menangis?”

Ia berkata lirih di telingaku, “Maafkan istrimu ini, Ayah. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak mau ayah menjadi tertawaan orang kampung, karena menganggap anak-anak di sekitar ini sebagai Aira. Maafkan aku, Yah, karena belum bisa memberimu keturunan.”

Tangerang Selatan, 8 April 2021

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Capung Merah Aira
Riswandi
Novel
One Last Cry
Hello Dino
Novel
An.Bi.Bi
Penasamudra
Novel
Bronze
Tentang Kisah Kita: Trilogi Novelette 3
Imajinasiku
Novel
SUNSHINE
Nor Laila
Novel
Bronze
AGATHA
Nimas Aksan
Novel
Kisah Ini Belum Usai
Ni Luh Putu Anggreni
Novel
Hidup Mati
Justang Zealotous
Novel
Bronze
Duniamu Akan Aku Usahakan
Devie Yunita Putriana
Flash
Bronze
Teleponmu Dari Benua Seberang
Silvarani
Cerpen
Tak Perlu Bilang Orang Tua
Amanda Chrysilla
Novel
My Life
una
Flash
Ibuku Ingin Menantu Bisu, Buta, dan Lumpuh
Mario Matutu
Flash
Atlantis Hanya Endapan
Siti Qoimah
Cerpen
Bronze
Anyang-anyangan ini seperti Membunuhku
Nuel Lubis
Rekomendasi
Flash
Capung Merah Aira
Riswandi
Flash
Bronze
KOMPAS
Riswandi
Flash
Kasman
Riswandi
Novel
Bronze
Impian dan Dendam
Riswandi