Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Penyesalan dalam Duka
10
Suka
31,802
Dibaca

Aku berdiri di teras rumah, memandang ke dalam ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Ruangan itu nampak makin menyesakkan, deru suara tangis terdengar di hampir seluruh sudut ruangan. Tamu yang bergiliran keluar masuk pun tak kunjung membuat Ibuku menghentikan tangisnya, yang masih saja memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dibalut kain kafan itu.

“Turut berbela sungkawa ya bu Rahmat, yang sabar.” begitulah yang ku dengar dari Ibu Dewi, salah satu tetanggaku yang mencoba menghibur Ibuku.

Kembali para tamu silih berganti keluar masuk dan mencoba menangkan Ibuku atau sekedar mengucapkan bela sungkawa. Aku yang tak kuat lagi, berjalan dari teras rumah menuju jalan di depan rumahku yang sudah dipasangi tenda.

Hampir semua keluarga serta kerabat datang, dan bahkan beberapa tetangga rumah yang aku sendiri tidak begitu kenal pun datang. Aku cermati satu-per-satu raut muka mereka, dan kebanyakan dari mereka terlihat shock mendengar kabar kematian yang mendadak dan tidak lazim ini.

Ku lihat Ibu Dewi sudah keluar dari dalam rumahku, berjalan menuju gerombolan ibu-ibu yang lain. Aku terus memperhatikan langkah beliau dan mencoba mendengar apa yang mereka perbincangkan.

“Kasian ya Bu Rahmat, ditinggal dalam keadaan begitu.” ucap Bu Slamet.

“Saya sih gak begitu kaget ya, lha wong orangnya aja begitu. Diajak bergaul atau bersosialisasi aja gak pernah mau, diem aja terus di dalem rumah. Ternyata bener kan dia akhirnya jadi orang setres dan bunuh diri.” celetuk Ibu Dewi.

Aku muak mendengar perkataannya, bagaimana ia seperti tipikal orang bermuka dua yang terlihat baik dan peduli di depan, namun ternyata berkata busuk di belakang.

Aku tidak pernah mengerti orang seperti dia, yang entah merendahkan orang lain agar merasa lebih tinggi, atau memang sifat dasar sejak lahir.

Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah, berdiri di samping Ibuku yang masih saja terus meraung-raung memeluk tubuh kaku itu.

Pernah aku baca di suatu tempat yang aku sendiri lupa, jika bunuh diri itu hanya memindahkan beban dan rasa sakitmu ke orang-orang di sekitarmu yang masih sayang kepadamu. Kamu akan lega dan terbebas dari semua beban dunia, namun orang terdekatmu yang kini menanggungnya. Melihat Ibuku saat ini, aku baru sadar jika hal itu memang benar adanya.

Kupandangi lekat tubuh kaku itu, tubuh yang sudah menjadi tempat bagi ruh dan jiwaku selama 23 tahun ini.

Andaikan saja aku sadar jika akhirnya akan begini, aku tidak akan nekat untuk mengakhiri hidupku dengan cara seperti itu. Andaikan saja aku bisa sedikit lebih sabar menjalani kehidupan, ibuku tidak perlu menanggung semua bebanku ini. Andaikan saja aku lebih memperhatikan detail-detail kecil kasih sayang yang orang-orang berikan kepadaku, mungkin aku akan memiliki masa depan.

Andaikan.....

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Imperfection
Andieran
Novel
Bronze
Mimpi yang Menjadikanku Sampah
Seli Suliastuti
Novel
UPIK ABU VS DRUNELLA dan BARBETTA
Diana Tri Hartati
Flash
Penyesalan dalam Duka
Alifian Afas Sawung Aji
Flash
Bronze
Baik-Baik Saja
Rere Valencia
Cerpen
Aditama's Obsession Sr 1
FinNabh
Novel
Bronze
VIRGO: Unconditional Reason
FatmaCahaya
Novel
Kamu Jahat
Prasetia Hulu
Novel
Ditampar Kenyataan
ratna fidelya
Novel
Bronze
Tiga Cinta
silvi budiyanti
Novel
Episode
Perspektifat
Novel
With You, I am Okay
Nadia Amalia
Novel
ARJUNA DAN JELITA
little women
Cerpen
Bronze
Sora dan Keputusannya
Moycha Zia
Cerpen
Bronze
Ayah di Bawah Pohon Mangga II
dyah
Rekomendasi
Flash
Penyesalan dalam Duka
Alifian Afas Sawung Aji
Flash
Kamu Terlalu Baik Buatku
Alifian Afas Sawung Aji
Skrip Film
Chasing Shadow
Alifian Afas Sawung Aji