Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Payu Nak Milu Mati
6
Suka
13,657
Dibaca

"Kau yakin memancing tengah malam begini banyak ikannya?"

Aku mengangguk, mengiakan pertanyaan Rijal. "Sekarang diam dan lempar saja upanmu sana."

Udara tengah malam di tepi sungai menembus ke balik jaket tebal yang sengaja kupakai malam ini.

"Payu nak milu mati," bisik seseorang dengan cepat dan berulang. Artinya kurang lebih, ayo ikut mati.

Rijal, temanku memancing di Rambang malam ini, merapatkan tubuhnya mendekatiku. Dia ketakutan.

"Kau dengar itu? Seram sekali!"

"Payu nak milu mati."

Kudorong tubuh Rijal menjauh, lalu melangkah untuk mencari sumber suara. Menyusuri aliran sungai Rambang yang tenang di tengah malam. Semakin aku melangkah, bisikan yang berulang itu semakin jelas dan membuat bulu kudukku ikut berdiri.

"Payu nak milu mati, payu nak milu mati."

Aku yakin sumber suara itu berada di balik rumpun dedaunan di hadapanku. Ketika aku hendak menyibaknya, Rijal menahanku.

"Jangan," katanya, "sebaiknya kita pulang saja."

"Tidak. Aku bisa mati penasaran kalau tidak bertemu siapa pun yang mengajakku mati saat ini juga."

Rijal mengalah dan berdiri rapat di belakangku, menyembunyikan pandangannya dengan jari-jari yang tidak tertutup rapat. Aku maju dan meraih rumpun dedaunan itu, menariknya dengan satu kali hentakan.

Brak.

"Oh."

Rijal maju. Dia mengembuskan napas lega ketika menyaksikan sekawanan berang-berang yang sedang membangun tempat tinggal di tepi sungai.

"Tuh, yang mengajak kau mati ternyata mereka," kata Rijal sambil terkekeh. Dia beranjak kembali ke tempat kami meninggalkan pancing beserta umpan.

Tidak mungkin Rijal melewatkan yang satu itu. Tidak jauh dari sekawanan berang-berang, seorang perempuan duduk dengan tenang. Wajahnya tak nampak karena ditimpa cahaya bulan. Tapi aku yakin seratus persen, perempuan itu bukan manusia.

Antu Ayek. Hantu Air, si penunggu sungai.

Entah mengapa aku merasa pandangan kami bertemu. Dadaku berdebar kencang, segera saja aku berbalik untuk menyusul Rijal.

"Sudah tidak lagi penasaran, kan?" bisik seseorang tepat di telingaku. Punggungku terasa berat sekaligus dingin. Suaranya lembut saat berkata,"payu nak milu mati."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Payu Nak Milu Mati
Oktabri
Cerpen
Bronze
Petaka Dara Haid
Bintang kecil@15
Novel
Gold
Hilang
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Bulan Madu Pengantin
Rosi Ochiemuh
Novel
Ada Penampakan di Pesantren
Hargo Trapsilo
Cerpen
Bronze
Avizena
Larasatijingga
Novel
Bronze
SELAMAT MALAM, KANIA
Rosi Ochiemuh
Flash
Memori
Roy Rolland
Novel
Lamia
Dewie Sudarsh
Flash
Roti Terakhir dari Alam Lain
Bagus Aryo Wicaksono
Cerpen
KAMAR 303
IGN Indra
Flash
Bronze
THE NIGHTMARE
Nisa
Novel
Sebeh Pengasih
Iswara Putri Jilan
Cerpen
Uji Kaji
jocelyn
Novel
RUMAH YANG MENELAN PENGHUNINYA
Noferius Laia
Rekomendasi
Flash
Payu Nak Milu Mati
Oktabri
Flash
Tak Sengaja Lewat Depan Rumahmu
Oktabri
Novel
MINOR
Oktabri
Novel
Romancheese
Oktabri
Flash
Duka Rumah Ibadah
Oktabri