Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jangan Korupsi, Nak!
20
Suka
28,264
Dibaca

"Pak, cepat berangkat. Main henpon melulu nanti telat, lho," kata Ibu sambil menyapu lantai teras mungil rumah kami.

"Sebentar, tanggung. Ini bukan main henpon, Bu. Aku lagi baca berita. Ini parah banget. Masak, seorang menteri ditangkap karena korupsi? Memalukan! Pejabat negara ini udah pada gak bener."

"Sudah, nanti terusin di kantor baca beritanya. Sekarang berangkat dulu. kalau telat nanti si Adit disetrap, Bapak dipecat."

"Iya, iya. Hayu, Nak!"

Bapak memasukkan ponselnya ke kantong baju lalu berjalan menuju motor. Aku berjalan menyusul Bapak.

"Hey, helmnya ini ketinggalan!" Ibu berteriak dari pintu sambil mengacungkan helm.

Aku berlari kembali ke rumah, lalu mengambil helm dari tangan Ibu. "Dipake!" Teriak Ibu setelah aku berbalik menenteng helm. Setengah enggan aku mengenakan helm yang kebesaran itu.

"Dikunci helmnya! Bapak juga."

Tanpa menjawab, Bapak menghidupkan motor. Aku naik ke belakang Bapak sambil mengunci helm.

Kali ini tak biasanya Bapak berbicara di atas motor. Suaranya melawan angin dari depan dan redaman helm di telingaku.

"Kamu kalau udah gede, jadi pejabat, jangan korupsi, Nak! Jangan bikin malu keluarga! Bikin susah negara!" Teriaknya. Sepertinya ia masih kesal setelah membaca berita di ponselnya tadi. Aku manggut-manggut saja meski jelas tak terlihat oleh Bapak. Tak tahu harus menjawab apa.

Seperti biasa, untuk menuju ke sekolahku kami melewati jalan raya, kemudian berbalik arah karena jalan di depan sekolahku berpembatas dan aku belum berani menyeberang meski dibantu satpam. "Kita muter di sini aja, kalau di depan kejauhan." Bapak selalu bilang begitu setiap kali kami berbalik arah di situ.

"Waduh! Polisi! Tumben pagi-pagi." Seketika Bapak melambatkan motor bersamaan dengan aku melihat seorang polisi. Aku mendengar gumaman Bapak karena deru motor berkurang ketika diperlambat.

PRIIIIT!!!

Polisi itu melambaikan tangan sebelum kami melewatinya. Gagah sekali dia. Aku merasa kagum sekaligus takut melihat polisi itu.

"Selamat pagi, Pak. Boleh lihat surat-suratnya?" tanya polisi itu sejenak setelah kami berhenti.

Bapak merogoh dompet dan mengeluarkan sesuatu setelah mematikan motor. "Ini SIM-nya, Pak."

"STNK?" Tanyanya sambil menerima SIM Bapak dan membacanya.

"Euuu ... hilang, Pak ...."

"Aduh Bapak ini. Sudah melanggar larangan muter, surat gak lengkap, pake helm gak bener ... Silakan ke pos, Pak," Polisi itu menggelengkan kepalanya lalu berbalik dan berjalan ke pos polisi di pinggir jalan.

"Eh, kamu tunggu di sini, Nak." Bapak mengikuti polisi itu.

Aku menghabiskan beberapa menit berjongkok di samping motor sebelum Bapak keluar dari pos polisi. Ia berjalan mendekat sambil memasukkan dompet ke saku belakang celananya.

"Hayu." Kami pun melanjutkan perjalanan tanpa bicara.

Aku pasti disetrap, tapi semoga Bapak tak dipecat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
A Flower from Angel
Ika Karisma
Flash
Jangan Korupsi, Nak!
Deden Darmawan
Novel
HELP
Selena Aresya
Novel
15th VOLTAGE
Indah Dwi Y
Novel
Bronze
Crush On
Hanni Maharani
Novel
Bronze
Saraswati
El Cavega Terasu
Novel
Bronze
KEMBALI PULANG
Nussaiba Zahra
Novel
My Twenty
qwerty
Novel
Keyra's story
ulya hilmi
Novel
FARA
zara zetira
Novel
Gaitha
Lisa Ariyanti
Novel
Kendy's
Miftahul Fadla
Novel
Bronze
Warna-Warna Mirna
Dimarifa Dy
Novel
PHILOCALIST about the importance: of communication
Jasmine c
Novel
Bronze
Biografi Koruptor
Kartika Catur Pelita
Rekomendasi
Flash
Jangan Korupsi, Nak!
Deden Darmawan
Flash
Baju Pantas
Deden Darmawan
Flash
SSB
Deden Darmawan
Flash
Cabai
Deden Darmawan
Flash
Petuah Ayah
Deden Darmawan
Novel
Sejati
Deden Darmawan
Flash
Kue Ulang Tahun Istriku
Deden Darmawan
Flash
Pilih Baju Lagi
Deden Darmawan
Flash
Perbaikan
Deden Darmawan
Flash
Rapat Dekom
Deden Darmawan