Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Arloji
7
Suka
25,558
Dibaca

Hari ini Eko ada ujian praktek biologi. Sial sekali, Eko lupa memakai arlojinya. Padahal itu sangat diperlukan untuk menghitung waktu dalam mengambil hasil penelitian. Eko jadi frustrasi.

"Sean! Pinjam jam kamu!" pinta Eko pada teman sebangkunya.

"Enggak bisa! Kita praktek di waktu bersamaan!" tolak Sean tegas.

Eko mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Kebanyakan dari teman-temannya mengenakan arloji di pergelangan tangan. Akan tetapi, Eko sangsi untuk meminjam. Eko tidak begitu dekat dengan mereka.

Eko itu pemalu. Sangat. Selama tiga tahun bersekolah, temannya hanya satu. Sean, yang kebetulan selalu duduk berdampingan dengannya.

"Ck! Enggak usah masang muka melas kayak gitu. Aku jadi enggak tega," gerutu Sean.

"Kalau gitu, bantu aku." Eko memohon dengan kedua tangan tertangkup di depan dada, matanya menatap polos, mengais rasa kasihan pada hati Sean.

"Ayo ikut!" Sean menyeret Eko meninggalkan kelas.

Masih ada beberapa menit sebelum kelas biologi dimulai. Eko pasrah saja ketika Sean membawanya memasuki kelas junior mereka.

"Pinjam sama dia." Sean menunjuk seorang gadis yang duduk di pojok belakang, dengan tesmak tebal membingkai sepasang matanya.

"Eri?" Eko tentu mengenali.

"Iya. Dia sepupuku. Anak baik. Enggak pelit. Pinjam aja."

Eko menggeleng. "Malu," bisiknya lirih.

Sean mendesis. Dalam keadaan genting seperti ini masih saja memikirkan rasa malu.

"Eri!" panggil Sean seraya melambaikan tangan kanan memanggil sepupunya.

Eri menoleh dan bergegas menghampiri Sean di ambang pintu kelas. "Iya, Kak Sean."

"Eko mau ngomong sesuatu," ucap Sean.

Eko gelagapan, melayangkan protes pada Sean dengan tatapan mata gelisah.

"Ada apa, Kak Eko?" tanya Eri dengan santun.

Eko menelan saliva. Sepasang mata bulat Eri yang tengah mendongak menatapnya itu, membuat jantung Eko nyaris meloncat keluar.

Jemari Eko bertautan di bawah sana. Gugup.

Sementara Eri masih menatap Eko dengan intens. Menunggu cowok itu menyampaikan sesuatu, seperti yang dikatakan Sean.

"P-pinjam ... hatimu."

Sean menepuk jidat. Tidak tahu kalau Eri menyita perhatian Eko sejak menjadi murid baru di sekolah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Arloji
Lovaerina
Novel
Borderline
Vitri Dwi Mantik
Flash
Delusi
Feby Irawan
Novel
Bronze
Mahatma in Love
Siti nurhasanah
Flash
Bronze
1800 Detik Untuk Cinta
Deeta Pratiwi
Novel
Bronze
My Blue White Avicenna
Ravistara
Novel
Bad Boy, My Forced Love
Ira A. Margireta
Flash
Bronze
CINTA RENATA
Maldalias
Novel
PUTIH YANG KELAM HITAM YANG BERSINAR
feby handayani
Novel
Bronze
Antariksa
Siti Norma J
Novel
Bronze
Me and this Pandemic
Eunike Mariyani
Flash
Bronze
Ketika Harapanmu Berbicara untukmu..
Shabrina Farha Nisa
Flash
Ketika Kita Jatuh Cinta
winda nurdiana
Novel
Gold
Luka yang Kau Tinggal Senja Tadi
Mizan Publishing
Novel
The E.T.E.R.N.I.T.Y
Drew Andre A. Martin
Rekomendasi
Flash
Arloji
Lovaerina
Cerpen
Mantan Dua Langkah
Lovaerina
Novel
Rambu-Rambu Masa Lalu
Lovaerina
Flash
Lembur
Lovaerina
Novel
Diskoneksi
Lovaerina
Novel
Rumah yang Dira Rindu
Lovaerina
Novel
Bronze
ALeha
Lovaerina
Flash
Papa Pungut
Lovaerina
Cerpen
Bentang Bintang
Lovaerina
Cerpen
My Precious Boss
Lovaerina
Novel
Sour Seventeen
Lovaerina
Flash
Kejutan Ulang Tahun
Lovaerina
Skrip Film
Matrikulasi Rasa
Lovaerina
Flash
Sajen
Lovaerina
Cerpen
Obral Obrol Tetangga
Lovaerina