Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Surat Rindu Untuk Ibu
12
Suka
36,288
Dibaca

Sejuk semilir angin menerpa wajahku. Aku duduk bersama ibuku sembari menatap lurus jalanan dari balkon kamar rawat inap lantai dua rumah sakit—tempat ibuku dirawat selama dua hari ini.

Kepalaku menoleh, melihat wajah ibuku yang terlihat memucat dan semakin kurus kian hari. Sorot matanya tampak memandangi setiap kendaraan yang sedang melintasi jalanan, seakan-akan dirinya sedang menghitung jumlah kendaraan yang melewati sapuan pandangnya.

“Besok aku mau ikut lomba itu,” ucapku, memecah keheningan yang menyelimuti kami selama hampir setengah jam berlalu.

Mendengarku berbicara padanya, Ibu pun menoleh, lalu bertanya, “Besok?”

Aku menganggukkan kepalaku. “Iya, besok.”

Ibu diam. Hanya semburat senyum hangat yang aku dapatkan darinya. Tatapan matanya pun tampak berbinar. Ada kerlipan cahaya bening yang seolah ingin jatuh membasuh pipi tirusnya.

“Ada apa?” tanyaku, pelan.

 

Ibu menggelengkan kepalanya. Ia semakin melebarkan senyumnya. Kemudian, tangannya tiba-tiba mengusap puncak kepalaku yang tertutup kerudung berwarna pastel.

“Kelak, jika kamu gagal dalam mencapai tujuanmu, jangan pernah putus asa, ya?”

Aku mengangguk menanggapinya, kemudian mengulas senyum tulus padanya.

“Apa pun yang kamu ingin coba lakukan dalam hidupmu, coba saja. Jangan ragu apalagi takut. Karena tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini, selama kamu yakin pada diri kamu sendiri dan juga ... Allah, Sang Pencipta,” pesan Ibu, tiga tahun yang lalu.

Aku menghela napas pelan. Menatap pilu pusara yang sudah berkeramik abu-abu. Rasanya, baru kemarin aku begitu dekat dengannya. Rasanya, baru kemarin aku berbicara dan bercakap riang dengannya. Namun, siapa sangka, waktu ternyata telah banyak berlalu. Tiga tahun sudah dia pergi dari kehidupanku.

Aku mengusap sebuah novel hasil dari dukungan yang ibu berikan padaku kala itu. Sengaja aku membawa novel hasil perjuanganku selama tiga tahun ini untuk kutunjukkan pada ibu, berharap beliau melihatku dari tempat yang tak kutahu.

Dear, Cintaku. Yang telah mau mengandungku selama berpuluh-puluh minggu, yang telah mau berjuang melahirkanku dua puluh satu tahun yang lalu, yang dengan ikhlas memberikan ASI-mu padaku, dan yang telah sabar merawatku. Terima kasih untuk tujuh belas tahun lebih atas kenangan indah yang telah engkau torehkan pada memoriku kala itu.

Ibuku, tidak peduli sebanyak apa pun waktu berlalu. Tidak peduli sebanyak apa pun kenangan tentangmu terkikis oleh waktu, dan tidak peduli sebanyak apa bibirku ini memanggil ‘ibu’ pada wanita lain. Bagiku, kau adalah satu-satunya ibuku, yang mengandungku, melahirkanku, menyusuiku, dan yang paling tahu apa yang aku mau.

Ibuku, terima kasih atas pesanmu waktu itu, yang telah menjadi motto terbaik dalam hidupku. Ibuku, semoga engkau bahagia di sana.

Tiga tahun tanpamu, aku merindukanmu, Ibu.

April, 2021

TN

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Drama
Komik
Bronze
LooP
Mufti wahyudi saili
Skrip Film
Orang-orang Bawah
Indah Zuhairani Siregar
Skrip Film
Skachery (script)
Hasna Khairunisa
Skrip Film
ORANG BAIK
Christian Rumbo
Skrip Film
Cerita Ini Belum Berjudul
Ainun Nisa
Flash
Surat Rindu Untuk Ibu
Tiansetian
Novel
Umah Lugu
Aniqul Umam
Novel
UNDERRATED CLASS
Mirna Devi
Novel
PENJARA DALAM RUMAH (Diarry anak broken home)
Rahmayanti
Novel
Mulai untuk Selesai
upi
Novel
Duka yang Belum Sembuh
Ira Karunia
Novel
Marriage without Dating
Susilawati Nussy
Skrip Film
Drown
just me
Skrip Film
The Superstar Is Fallin (In Love)
Maya Suci Ramadhani
Flash
Bronze
Love In Jakarta
Herman Siem
Rekomendasi
Flash
Surat Rindu Untuk Ibu
Tiansetian
Flash
BELL
Tiansetian
Flash
Petrichor
Tiansetian
Flash
Kartini
Tiansetian